Rabu, 22 Agustus 2012

Kisah Sukses: Bisnis itu Melakukan Kesenangan


Berbisnis itu melakukan kesenangan. Jika dari kesenangan itu mendapatkan penghasilan, maka itu hanya konsekuensi. Selanjuntunya uang itu digunakan untuk berbisnis kembali dan untuk dibagi-bagi, kaerna harta tidak dibawa mati.
Sumber Gambar: rudicahyo's instacanv.as gallery


Hari ke delapan berlibur di masa lebaran. Berlibur di dua tempat dengan nuansa yang berbeda. Ke Bali dengan suasana kerja. Bahkan di malam takbir pun kita tetap bekerja. Sementara tempat kedua, Lumajang, memiliki nuansa bertetangga dan bersilaturahmi. Selama dua nuansa liburan tersebut, ternyata ada cerita yang ada di keduanya, yaitu tentang profil seorang pengusaha.

Adalah Haji Bambang yang menjadi bahan pembicaraan di sana-sini. Beliau ini adalah seorang pengusaha dari Desa Pulo, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang. Memulai usahanya dari nol di Kota Negara, Kabupaten Jembrana, Bali.

Ceritanya, ketika berada di Bali, beberapa kali nama Haji Bambang di singgung. Aku tetap biasa saja, karena aku sudah tahu orangnya dan sudah familiar ceritanya. Apalagi orang satu ini adalah teman bapak sejak kecil. Kehidupannya juga tidak jauh beda dengan bapak, yaitu diawali dari rahim orang yang tak berada.

Aku sendiri tidak pernah intens ngobrol dengan orangnya. Tapi cerita dari beberapa mulut cukup menarik untuk dijadikan referensi tulisan ini. Jangan harap juga akan ada nama facebook atau twitter di sini. Juga tidak akan ada nama usaha yang digelutinya di dunia maya. Tak ada website, tak ada media sosial. Pendidikan saja mungkin cuma SD atau SMP.

Entah, untuk usaha yang diwariskan buat anak-anaknya, mungkin saja sudah menggunakan digital marketing. Tapi kalau aku amati, ini adalah usaha dagang dengan sistem tradisional yang rapi, jual beli perhiasan emas.

Kenapa kok tertarik mengangkat profil orang ini untuk ditampilkan di rudicahyo.com? Bukan karena primordialisme karena berasal dari daerah yang sama dan merantau ke pulau yang sama, tetapi semua ini lebih karena kebetulan. Ada tiga bagian cerita yang secara kebetulan menyinggung tentang Haji Bambang ini.

Di liburan lebaran kemarin, nama Haji Bambang mulai di sebut ketika perjalanan mudik di tempat kedua, yaitu Lumajang. Pada waktu mobil meluncur dari kota kecil tercinta, Negara Bali, kami melewati sebuah restoran yang beru berdiri. Restoran ini belum difungsikan, tetapi masih dalam tahap penyelesaian bangunan dan segala perlengkapannya. Nah, restoran ini milik Haji Bambang.

Aku pikir ia mulai sebuah usaha baru dari usahanya yang lama, jual beli emas. Ternyata ini adalah restoran ketiga. Restoran pertama telah berdiri dan menuai sukses luar biasa. Karena didirikan di pinggir jalan, maka restorannya menjadi tempat transit kendaraan umum seperti bus dan travel. Lagi-lagi aku berusaha memaklumi. Karena uang segitu banyak mau diapakan lagi kalau tidak dibuat untuk permainan-permainan yang menghasilkan uang kembali. Dan permainan ini disebut bisnis.

Aku kiracerita selesai sampai di sini soal orang yang satu ini. Iya, ceria-cerita yang berujung pada pemakluman karena hartanya memang berlimpah. Ternyata cerita yang lainnya hadir. Ketika bersilaturahmu di rumah sepupu.

Sepupuku bercerita tentang kesenangannya bersepeda. Saat sedang asik mengayuh sepedanya dengan segerombolan teman, ada yang bergabung dan mengajak bersepeda jarak jauh. Asik bersepeda, obrolan dengan sepupuku ini berlangsung makin hangat. Sepupuku juga kagum dengan kekuatan orang yang baru saja bergabung ini dalam mengayuh sepedanya.

Karena berawal dari kesenangan bersepeda, maka obrolannya pun seputar sepeda. Menurut sepupuku, wajar saja orang ini suka bersepeda dan kuat melakukannya dengan jarak yang sangat jauh. Sepeda yang sedang dikendarainya seharga 25 juta. Bahkan ketika bercerita tentang sparepart-nya, soft breaker-nya saja seharga 6 juta. Sungguh luar biasa.

Obrolan dilanjutkan tentang pekerjaan dan tempat tinggalnya. Orang yang luar biasa ini bilag kalau bekerja di Negara, Bali. Dan sudah punya rumah di pulau dewata tersebut. Sepupuku bilang bahwa ia juga punya keluarga yang bekerja di Bali, yaitu bapakku. Kontan saja orang yang dia ajak ngobrol ini, yang tak lain adalah Haji Bambang, mengatakan bahwa bapakku adalah teman akrabnya. Dengan senang hati Haji Bambang mempersilahkan sepupuku mampir jika ada di Bali.

Bapak yang waktu itu sedang nimbrung juga cerita tentang gaya Haji Bambang yang memang suka bergaul dengan anak muda. Tidak membatasi diri seperti teman-teman seprofesinya. Kata bapak, keterbukaannya bergaul itu membuat ia disenangi dan bisnisnya berjalan dengan lebih mudah. Teman-teman satu angkatannya memang berbisnis, tetapi sepertinya berjalan sangat alot, lebih stag.

Ketika sedang makan di sebuah tempat, kemudian ada yang ikut makan bersamanya, jika ada yang satu saja yang ngobrol dengannya, maka teman-teman yang bersama orang yang diajak ngobrol tersebut akan ditraktir semuanya. Tak jarang Haji Bambang ini menghentikan tukang jual bubur. Seorang tukang bubur yang sudah ia kenal. Memang tujuannya untuk membantunya juga. Sekali menghentikan, bisa 30 – 40 mangkok habis di tempat. Ini karena karyawan toko Haji Bambang ini sejumlah tersebut.

Masih menurut bapak, Haji Bambang punya prinsip bahwa harta tidak dibawa mati. Karena itu ia gunakan harta itu untuk kesenangannya, yaitu berbisnis dan berbagi. Buat Haji Bambang, bisnis adalah permainan yang harus ia beli dengan apa yang ia miliki. Ia hanya bersenang-senang dalam permainan itu. Masalah kemudian permainan itu menghasilkan uang lagi, itu cuma konsekuensi. Ia hanya menjalankan kesenangannya. Hasilnya ia gunakan untuk membeli kesenangan yang baru dan untuk dibagi-bagi kepada yang lain.

Itu tadi cerita kedua tentang Haji Bambang. Cerita yang ketiga ini juga terjadi karena kebetulan. Ketika aku dan bapak akan pijit di tukang pijit langganan. Ada seseorang yang bernama Cipto yang juga mengantri. Cipto ini ternyata juga kenal sama bapak. Karena Pak Cipto ini terbiasa main ke tukang pijit itu, maka ia rela dipijit belakangan. Aku dapat giliran pertama, kemudian bapak.

Nah, saat giliran bapak yang pijit, sambil menunggu aku dapat cerita lagi dari Pak Cipto. Orang ini selalu menyebut tokoh yang ia ceritakan dengan sebutan Kaji. Aku pikir haji itu banyak dan tidak didominasi oleh satu orang saja. Aku baru sadar kalau yang disebut dengan Kaji adalah orang yang punya restoran di daerah Banyu Biru, Bali, yaitu Haji Bambang. Iya, orang yang sama dengan cerita-cerita sebelumnya. Pak Cipto ini yang sedang menanganani penyelesaian restoran baru Haji Bambang.

Ceritanya memang tidak jauh dari kekaguman orang atas kekayaan Haji Bambang. Lagi-lagi aku memakluminya. Namun yang membuat aku lebih kagum adalah bagian awal dari kehidupan Haji Bambang.
Karena rasa kagum dan bangganya Pak Cipto telah menjadi sahabat akrab Haji Bambang, maka ia juga cerita tentang peran dirinya mengantarkan Haji Bambang merantau ke Bali. Pada tahun 80an memang lagi ngetrend orang orang dari Jawa, terutama Lumajang untuk mengadu peruntungan di Bali. Coba saja sekarang kalau ada penjual atau toko emas di sepanjang Bali, tanyakan darimana asal mereka. Kebanyakan akan mengatakan dari Lumajang.

Apa tujuan Bambang datang ke Bali? Kalau langsung ditanyakan kepadanya pada waktu itu, pasti ia cuma jawab ‘entahlah’ atau menggelengkan kepala. Ia tidak punya motivasi apapun selain lari dari persoalan ekonomi yang membelitnya. Iya, ia adalah orang miskin yang semiskin-miskinnya. Datang pertama kali di Bali saja ia cuma bisa tidur di lapangan. Seorang polisi yang membangunkannya mengira ia penduduk setempat. Ketika diajak ngomong Bahasa Bali, tentu saja ia tidak bisa. Beruntungnya, polisi ini berasal dari Jogja. Karena sama-sama dari Jawa dan bisa berbahasa Jawa, maka Bambang mendapatkan kebaikan hatinya. Ia ditumpangi mandi dan dikasih makan ala kadarnya.

Aku tidak banyak mendapatkan cerita tentang Haji Bambang selanjutnya setelah datang di Bali. Mungkin saja ceritanya mirip Haji Ribut, yang juga dari Lumajang, yang dulunya hanya berdagang perhiasan imitasi dengan menggelar karung plastik di pasar. Haji Ribut ini sekarnag juga kadi konglomerat di Bali.

Tanpa cerita yang memerantarainya, aku dapat cerita singkatnya sehubungan dengan Bambang pernah tidur di sebuah lapangan saat pertama kali datang di Bali. Apa cerita menarikanya? Kini lapangan tempat ia tidur itu telah ia beli. Di atas tanah yang luas itu ia dirikan rumahnya yang lima lantai plus playing center di atapnya. Katanya ada studio musik segala. Entah apa yang ia pikirkan pada saat tidur di lapangan itu, hingga sekarang ia bisa mengangkanginya seperti raja.

Ternyata ada cerita sentimentil juga tentang pengusaha kaya satu ini. Menurut Pak Cipto, ketika ia habis ikut Haji Bambang berkeliling memeriksa toko-toko emasnya, ia mengantarkan Kaji pulang ke rumah istri mudanya.

Oh iya, Haji Bambang ini punya dua istri. Yang membuat Pak Ciptko kagum, ketika suatu saat ia pernah berkunjung ke salah satu toko emasnya, kedua istirnya ada di situ. Mereka berdua bisa kompak dan rukun. Bisa berbicara dengan bahasa dan gaya seperti teman. Masih menurut Pak Cipto, bahkan anak dari istri mudanya juga kerasan dan sering berada di rumah istri tua. Dari bagian cerita yang ini, Pak Cipto berkata, “Adil itu berpangkal dari urusan perut. Jika kebutuhan semua istri tercukupi, apalagi jika berlebih, maka keduanya bisa bersahabat dan saling menyayangi”. Ada benarnya juga. Ada ambang batas dimana kasih sayang itu dibangun diatas fondasi perut yang serba berkecukupan.

Kembali ke cerita istri muda. Ketika akan pulang ke rumah istri muda, ternyata Haji Bambang tidak langsung berbelok ke rumahnya. Ia lurus saja melajukan mobilnya menuju pantai. Lama ia pandangi lautan. Dalam suasana hening, ia berkata kepada Pak Cipto, “Aku iki dadi nggolek gawean (aku ini jadi nyari kerjaan (baca: perkara). Ngenen iki aku kepingin ngasoh, lha bojo nom nagih jatahe (gini ini aku ingin istirahat, tapi istri muda menagih jatanya). Sakjane aku ndak gelem. Lha tapi bojo nom ngomong, aku iki sedinoan ngenteni sampean. Mosok arepe karo wong liyo (Lha tapi istri muda bilang, aku ini seharian menanti kamu. Masak mau melakukannya sama orang lain). Yo masio kesel akhire tandang ae (ya meskipun capek, akhirnya ya dilakukan juga)”. Ternyata ada bagian sentimentilnya juga hehe.

Demikian cerita tentang profil Haji Bambang yang belakangan ini sering jadi buah bibir yang mengbiasi telingaku. Awalnya bersusaha mencari bagian yang bisa dibahas atau dikupas lebih dalam. Tapi menyajikan cerita ini saja sudah menarik buatku. Mudah-mudahan tetap ada hikmah yang bisa diambil.

Apa kesan Kamu setelah membaca kisah ini?

2 komentar :

  1. cerita yang hebat, banyak quote di dalamnya :D
    jadi pengen liat Haji Bambang deh. Haha
    nice post, thankyou~ :)

    BalasHapus
  2. Ayo nonton haji Bambang. Mumpung tak dipungut biaya hehehehe

    BalasHapus