Kamis, 14 Juli 2011

MENGUBAH CERITA TEKS DESKRIPTIF KEDALAM BENTUK SKRIP SIAP REKAM

Setelah ceritanya jadi, langkah selanjutnya adalah merekam cerita itu. Agar lebih mudah, cerita diubah dulu menjadi bentuk skrip yang siap rekam. Sebenarnya bisa saja cerita bebas deskriptif langsung direkam, namun lebih mudah jika diubah dalam bentuk skrip yang siap rekam. Keuntungan mengubah dalam bentuk skrip siap rekam adalah:

  1. Dialog tiap tokoh yang terlibat dalam cerita lebih jelas
  2. Memudahkan jika cerita dibawakan oleh banyak pengisi suara
  3. Jika dibawakan oleh satu orang pun, akan memudahkan pencerita beralih suara dari satu tokoh ke tokoh yang lain
  4. Lebih praktis untuk diceritakan kembali

Dalam mengubah cerita teks deskriptif menjadi skrip yang siap rekam, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Bahasa untuk menggambarkan atmosfir cerita berbeda, antara yang berbentuk teks deskriptif dengan yang skrip siap rekam. Teks deskriptif menggambarkan atmosfir cerite lewat deskripsi, sedangkan skrip siap rekam lebih banyak digambarkan secara tidak langsung melalui dialog tokohnya.
  2. Karena alasan pada nomor 1, maka cerita dalam bentuk skrip siap rekam lebih baik menghapus bagian-bagian yang tidak terlalu penting, yaitu bagian yang tidak langsung berhubungan dengan inti cerita
  3. Keterangan cara dialog tokoh (misal sedih, gembira, terharu) akan lebih baik dioperasionalkan dalam bentuk perilaku (jadi terisak, sesenggukan, memekik, berteriak, histeris), dan cukup ditulis singkat saja (boleh dalam tanda kurung)
  4. Bagian deskriptif yang bukan merupakan dialog tokoh, dibawakan oleh narator dengan kalimat secukupnya (berkaitan dengan inti cerita)
  5. Agar cerita lebih interaktif dan lebih manis, dialog narator dapat ditambahkan dengan pertanyaan-pertanyaan untuk memancing keterlibatan pendengar. Berikan jeda atau kesempatan beberapa saat untuk menjawab, selanjutnya narator dapat menjawab sendiri pertanyaannya.

Untuk lebih jelasnya, silahkan bandingkan cerita KAUS KAKI BOLONG antara yang bentuk cerita teks deskriptif dengan cerita yang berupa skrip siap rekam.

BERBAGI PENGALAMAN MEMBUAT CERITA

Awalnya adalah ketika aku membantu menjadi notulen untuk ujian atau sidang skripsi. Ujiannya santai (tapi tegang buat yang disidang hehe). Dalam proses tanya jawab, ku copot sepatu agar terasa nyaman. Karena ketika kaki di gesekkan di besi bagian bawah kursi, rasanya ada yg lembut menggesek telapak kaki.

Eh, ternyata baru tahu kalau kaus kakiku bolong. Penguji di sebelahku yang mengetahui hal itu langsung tertawa. Karena dasarnya aku cuek dengan persoalan seperti itu, dan juga penguji yang tertawa tersebut adalah teman juga, saya langsung ingat film Sponge Bob.

Apa yang aku ingat dari film kartun tersebut? Dramatisasi. Iya, dramatisasi. Film itu punya kekuatan dalam melakukan dramatisasi. Teringat satu episode tentang kampanye pembatalan pembangunan jalan yang menggusur rumah ubur-ubur. Yang melakukan kampanye pembatalan hanya dua, yaitu Sponge Bob dan Patrix. Sebenarnya Mr. Crab juga ikutan, karena restorannya terancam dilalui jalan di atasnya, dan diramalkan akan bangkrut. Namun Mr. Crab sudah membayangkan kebangkrutannya dan akhirya merasa tak berdaya. Karena itulah ia tak ikutan melakukan promosi pembatalan jalan.

Nah, serunya ketika mereka berdua melakukan kampanye pembatalan, ternyata semua penduduk mendukung pembangunan jalan. Ketika promo pembatalan berjalan, aksi dukungan juga bergulir dengan kekuatan yang lebih besar. Akibatnya Patrix dan Sponge Bob selalu kalah, karena dukungan terjadi di setiap sudut kota.

Secara keseluruhan ceritanya masih panjang dan berakhir dengan kemenangan Patrix dan Sponge Bob. Kemenangannya bukan berarti pembangunan jalan dibatalkan. Jalan sudah selesai dibangun, tapi efek yang terjadi setelah pembangunan itu yang menjadi masalah. Jalan kembali ditutup dan keadaan dikembalikan ke kondisi semula, termasuk sarang ubur-ubur.

Inspirasi film ini datang begitu saja ketika melihat kaus kaki yang berlubang. Dalam hati terbersit juga ingin menunjukkan bahwa kaus kaki bolong itu cuma perbedaan. Hanya saja kebetulan yang bolong tidak banyak. Karena itu, bukan hal yang mustahil jika suatu saat ada tren kaus kaki bolong. Bukankah juga sudah ada trend baju compang-camping, kusut dan rambut yang semerawut?

Terbayang cerita tentang seseorang yang mempunyai kaus kaki bolong. Untuk orang dewasa, kaus kaki bolong mungkin hanya masalah biasa. Ini mungkin jadi persoalan menyembunyikan di balik sepatu atau membeli yang baru. Tapi hal ini bisa jadi masalah yang besar jika terjadi pada anak-anak. Bayangkan menjadi anak-anak yang diolok-olok kaus kakinya bolong. Ini bisa menjadi masalah besar, merasa malu dan sampai tidak masuk sekolah.

Nah, kampanye seperti yang dilakukan oleh Sponge Bob dan Patrix bisa terjadi untuk mengubah trend memakai kaus kaki. Dengan demikian bolong atau tidak itu hanya persoalan variasi. Selain itu, anak juga dilatih untuk mempunyai alternatif berpikir yang berbeda, dari berpikir perbedaan kualitas menjadi perbedaan variasi model kaus kaki.

Untuk mengubah cara berpikir tersebut, dibutuhkan pengelolaan keterampilan. Keterampilan apa yang dapat dikelola dari tokoh sehingga anak dapat berpikir bahwa bolong itu juga sama baiknya? Karakter mengapresiasi yang jadi jawabannya. Yang perlu dibangkitkan pertama kali adalah mengapresiasi kaus kaki bolong. Dalam cerita perlu ada proses ini. Dalam cerita “Kaus Kaki Bolong”, terjadi proses pembelajaran tokoh utama (Libi) yang dibantu oleh Lea dan Dapin.

Karakter apresiatif terbentuk, tinggal bagaimana mempromosikan karakter itu. Mempromosikan karakter apresiatif butuh media yang menjadi cantolan (anchor). Dalam cerita ini cantolannya adalah kaus kaki bolong yang dipromosikan untuk diapresiasi.

Sampai sini terselesaikan sudah memasukkan beberapa unsur dalam cerita, yaitu tokoh, keterampilan dan persoalan serta tujuan yang ingin dicapai. Sekarang saatnya memoles menjadi cerita yang menarik.

Anak-anak suka dengan cerita imajinatif. Cerita yang merangsang imajinasi punya daya stimulasi yang kuat, baik untuk mencuri maupun menjaga perhatian. Karena itu, kita bisa menjadikan cerita tersebut sebagai cerita metaforik. Yang paling mudah, kita bisa memakai tokoh binatang. Dalam cerita “Kaus Kaki Bolong”, Libi ada seekor lebah yang sekolah di sekolah para semut. Dua temannya, Lea dan Dapin adalah dua ekor semut. Nah, sekarang ceritanya jadi lebih manis kan?

Untuk memperkuat cerita, kita perlu perhatikan dramatisasinya. Sebelumnya sudah dibahas, promosi kaus kaki bolong sudah merupakan cara dramatisasi untuk menumbuhkan karakter mengapresiasi. Ini dapat kita perkuat dengan menambah atmosfir setting cerita. Dalam cerita “Kaus Kaki Bolong”, setting sekolah yang digunakan adalah sekolah yang mewah, serba rapi dan menjunjung tinggi budaya berkaus kaki. Jika suatu saat ada orang yang menggunakan kaus kaki bolong, akan jadi masalah besar di sekolah tersebut. Nah, dengan demikian konteks cerita juga menyumbang untuk efek dramatisasinya.

Kita telah membuat satu cerita komplit berjudul “Kaus Kaki Bolong”. Cerita ini dijamin tidak hanya menghibur, tetapi juga punya dampak terapis, karena dapat mengubah cara berpikir dan berperilaku. Mudah bukan membuat cerita yang menarik? Mari kita coba!

KAUS KAKI BOLONG

Pagi itu adalah hari pertama Libi masuk sekolah. Nama sekolahnya, SEKOLAH SEMUT BERKAUS KAKI. Libi adalah seekor lebah yang masuk di sekolah para semut. Ini karena Libi adalah satu-satunya lebah berwarna merah yang sudah diangkat menjadi keluarga semut. Seperti namanya, setiap murid tidak ada yang tidak berkaus kaki. Kaus kaki seperti pakaian wajib. Lebih dari itu, memakai kaus kaki adalah kebanggaan buat murid di sekolah semut tersebut.

Di sekolah semut yang baru ini, Libi senang sekali, karena fasilitas sekolahnya beraneka ragam. Ada perosotan yang puanjaaang, ada ayunan yang tidak hanya berayun depan belakang, tapi juga bisa bergoyang ke kiri dan ke kanan, ada terowongan panjang bawah tanah, dan banyak lagi. Ditambah lagi sekolahnya yang beraneka warna dengan pemandangan kolam yang indah serta permainan lampu yang bisa menampakkan hujan, matahari dan pelangi. Sebuah sekolah yang luar biasa.

Tidak seperti sekolah lamanya dulu, teman-teman Libi di sekolah ini juga keren-keren. Selain bajunya yang selalu bersih dan disetrika rapi, peralatan sekolah mereka juga canggih. Rautan, pinsil, ballpoint, semua serba otomatis dan menggunakan mesin. Dan yang pasti, para murid memakai kaus kaki berwarna-warni indah dan berbau harum beraneka aroma.

Suatu ketika, tibalah belajar di laboratorium ilmu alam. Laboratorium yang besar dan bersih. Setiap masuk, guru dan murid harus melepas sepatunya. Lantainya berkarpet dan tidak ada kotoran atau debu sedikitpun.

Di lantai duduk berderet anak-anak semut yang sibuk melepas sepatu dan segera meletakkan di rak. Ketika Libi melepas sepatu, beberapa teman yang berada di sekitarnya memperhatikan. Pandangan mereka tajam tertuju pada ujung kaki Libi yang masih terbungkus kaus kaki.

Beberapa detik kemudian tawa teman-teman Libi meledak.

“Kaus kaki bolong!”, celetuk Pilo, salah satu teman baru Libi, diikuti dengan tawa yang terkekeh-kekeh.

Teman-teman Libi tak kalah keras ikut menertawakan kaus kakinya.

Sekali lagi Libi menatap kaus kakinya. Dia segera lari menuju rak sepatu, meletakkan dan buru-buru masuk laboratorium.

Kelas berjalan dengan suara bisik-bisik diantara teman-teman Libi.

“Kaus kaki Libi bolong”, demikian mereka saling mengabarkan.

Beberapa diantaranya berusaha melongokkan kepalanya untuk memastikan kondisi kaus kaki Libi, apakah bisikan para murid bukan isapan jempol belaka.

Kaki Libi sibuk saling menutupi antara yang kiri dan yang kanan. Tapi ujung-ujung jari kaki itu rupanya tak mau dihalang-halangi. Jika yang kanan menutup yang kiri, maka jari kaki kanan yang di atas, tetap saja kelihatan.

* * *

Libi melemparkan tasnya di kasur, disusul tubuhnya mendarat tajam. Ia menelungkupkan wajahnya ke bantal.

“Ada apa Libi?”, suara lembut perempuan dari balik pintu. “Biasanya kalau baru datang, kamu cium tangan ibu, bercerita banyak hal. Ada apa?”, lanjat perempuan yang ternyata ibunya Pimpim itu.

Libi diam terisak-isak.

“Ayo cerita...!”, desak ibu.

“Kapan Libi dibelikan kaus kaki baru?”, suara Libi diantara isakan.

Ibu menunduk. Ia tersenyum sambil mengelus kepala Libi dari belakang.

“Ibu kan sudah bilang, bulan depan ibu baru punya uang untuk beli kaus kakimu”

“Itu terlalu lama Bu...”, Libi tetap merengek.

* * *

Keesokan harinya, satu bangku di kelas Libi kosong. Siapa yang tidak hadir? Tentu saja Libi.

“Kemana Libi? Ada yang tahu?”

Pilo mengangkat tangan, “Mungkin dia sedang mengerjakan PR nya Bu Guru”

“PR apa?”, tanya Bu Guru bingung.

“Menjahit lubang di ujung kaus kakinya”, celetuk Dion, diikuti suara tawa hampir seluruh murid.

Sejak saat itu, berita tentang kaus kaki Libi yang bolong menyebar ke seluruh sekolah.

“Anak baru itu, kaus kakinya bolong”, “Dia satu-satunya anak ajaib, ujung jarinya berloma-lomba keluar”, “Gimana kalau kita kasih nama si kaki bolong?”, demikian cerita heboh tentang kaus kaki Libi yang bolong.

Tidak hanya itu, ada juga yang kreatif bikin poster gambar kaki yang memakai kaus kaki dan ujung jarinya nongol. Di atasnya ditulis, DICARI SEORANG BOCAH HILANG. CIRI-CIRINYA LIHAT DI BAWAH INI.

Tertawa meledek terdengar di setiap ujung sekolah. Memang tidak semua, tapi sudah cukup membuat Libi, tepatnya kaus kakiya yang bolong, menjadi bintang.

Diantara banyak yang tertawa itu ada juga yang menaruh iba. Dapin dan Lea adalah dua teman Libi yang berusaha mencari Libi ke rumahnya.

* * *

“Selamat siang!”

“Selamat siang!”, Ibu Libi menyambut Dapin dan Lea. “Libi ada di kamar. Masuk aja!”, lanjut ibu mempersilahkan mereka berdua.

Di kamar Libi sedang duduk serius menghadap ke mejanya. Di atas meja ada dua buah helai kaus kaki bolong yang sedari dua jam yang lalu tak pernah lepas dari padangannya.

“Libi, kamu ngapain?”, tanya Dapin menghampiri.

Libi tetap tak menggubris.

“Libi...”, susul Lea sambil memegang pundak Libi

Dapin dan Lea melongok, apa yang sedang dilakukan Libi di mejanya, sampai-sampai ia tak mendengar mereka berdua.

Dapin tak dapat menahan tawa setelah tahu yang di depan Libi adalah dua helai kaus kaki bolong. Lea buru-buru mencolek Dapin, memberi isyarat untuk diam.

Libi memandang mereka berdua. Ia raih dua kaus kaki di meja dan meninggalkan mereka berdua. Ia terbang mengitari kamarnya dan akhirnya menjatuhkan tubuhnya, duduk di atas ranjang. Ia angkat dua kaus kakinya seperti sedang menerawang untuk memastikan uang asli.

Dapin duduk di samping Libi, menepuk pundak Libi.

“Sudah, biar kaus kaki bolong, belajar jalan terus jalan dong”, Dapin berusaha memberi semangat.

“Iya Libi. Besok masuk sekolah yuk!”, lanjut Lea.

“Dengan kaus kaki bolong ini?”, protes Libi

“Ibu sudah menasehati biar dia tetap belajar. Kaus kaki dan belajar itu tak ada kaitannya”.

Ibu masuk dengan sepiring kue madu kesukaan Libi.

“Ayo Dapin, Lea, dimakan kuenya!”, lanjut ibu

Kini mereka bertiga tak bersuara. Masing-masing orang terdiam, entah memikirkan apa.

“Benar itu Libi...”, Dapin angkat bicara.

“Meskipun kaki kita berbeda, apa kamu mau menggunakan kaus kakiku?”

“Biarpun aku pakai kaus kaki baru, tetap saja mereka akan mengolokku”, tepis Libi.

“Betul Lea, bukankah di sekolah sudah ada julukan Si Kaus Kaki Bolong? Hahahahaha”

“Hush!”, kembali Lea mencolek Dapin. Kali ini ditambah pelototan mata.

Kembali ketiganya diam. Kali ini lebih lama.

“Aku ada ide!”, pekik Lea.

Dapin dan Libi menoleh dan menunggu dengan antusias.

“Saatnya kita mempromosikan kaus kaki bolong”

“Maksud kamu?”, tanya Dapin dan Libi hampir bersamaan.

Lea tak menjawab. Ia segera mencopot kaus kakinya.

“Kamu punya gunting?”, tanya Lea

Libi menunjuk meja belajarnya. Lea mengambil gunting yang tergeletak di situ. Ia memotong ujung kaus kakinya.

“Apa yang kamu lakukan, Lea?!”, pekik Dapin

“Iya Lea.. aku saja mendambakan kaus kaki yang indah seperti itu. Kenapa kamu malah merusaknya?”

“Ini tidak rusak Libi. Ini justru indah. Malah lebih indah”

Dapin dan Libi menggeleng tak mengerti.

“Mulai hari ini, aku akan mendukung Libi untuk mempromosikan kaus kaki bolong”

“Ini ide gila!”, kata Dapin

“Apa keuntungannya kalau kaus kaki kita bolong?”, tanya Lea

“Kaki kita jadi dingin, tidak gerah”, kata Dapin

“Apa lagi?”, tanya Lea lagi

“Ujung jari kita masih bisa untuk menjepit kalau kita bermain di atas pohon, atau ketika kita memakai sendal jepit”, Libi melanjutkan, tak mau kalah.

“Bagus! Ayo kalian berdua buat posternya!”

Dapin dan Libi bengong

“Tunggu apa lagi?!”, bentak Lea

“Eh, iya”

“Siap!”

Dapin dan Libi terkesiap dan segera melakukan ide Lea.

* * *

Ini hari pertama Libi masuk sekolah lagi, setelah seminggu tidak masuk. Kali ini dia berangkat sekolah dengan semangat bersama Lea dan Dapin. Ia terbang mengelilingi Lea dan Dapin yang hanya bisa jalan, karena mereka berdua bukan lebah. Tawa mereka bertiga merekah, diselingi lagu berjudul KAUS KAKI BOLONG.

Kaus kaki bolong

Kaus kaki paling keren

Kaus kaki bolong

Untuk yang merasa beken

Begitulah lagu yang mereka ciptakan untuk mempromosikan kaus kaki bolong. Sepanjang jalan mereka bertiga menghafalkan lirik lagunya. Sesekali Dapin salah dan harus diingatkan oleh Lea dan Libi.

Di sekolah, Libi, Lea dan Dapin segera menempel poster-poster yang bergambar kaus kaki bolong. Di poster itu juga ditulisi lirik lagu yang mereka dendangkan dimana-mana. Mereka bertiga juga tidak malu menunjukkan kaus kaki mereka yang bolong. Selain itu, Dapin juga bersemangat menyebarkan selebaran-selebaran tentang ‘kaus kaki bolong’. Beberapa orang yang merasa kampanye mereka seru, ikut mempromosikan. Yang lain juga tidak ingin ketinggalan.

Promosi kaus kaki bolong ini terus berlangsung. Setiap hari selalu bertambah murid yang memakai kaus kaki bolong. Dimana-mana murid atau bahkan guru menyanyikan lagu ‘kaus kaki bolong’.

* * *

Sudah berganti bulan. Ini saat yang telah dijanjikan oleh ibu. Libi mendapatkan sebuah bingkisan yang dibungkus kotak cantik.

“Libi, ini kaus kaki yang ibu janjikan dulu. Ini baru ibu berikan bulan ini, karena ibu baru punya uang bulan ini. Tidak hanya itu, ini juga bertepatan dengan hari ulang tahun Libi. Jadi ini sekaligus hadiah ulang tahun buat Libi”

“Terimakasih Bu”

Libi mencium pipi ibu.

“Libi sudah tidak mau merepotkan ibu”, lanjutnya. “Libi tidak mau menuntut ibu membelikan kaus kaki baru”

“Ini kejutan buat Libi. Coba Libi buka hadianya”

Perlahan Libi menyobek kertas pembungkus hadiah. Matanya berbinar ketika melihat hadiahnya. Sepasang kaus kaki bolong baru.

end

Minggu, 26 Juni 2011

Belajar: Aktif Vs Kreatif

Pagi-pagi, habis beres-beres dan nganter Abe ke tempat momongnya, langsung sabet smartphone dan laptop. Tangan ini tak ingin berhenti nyerocos di layanan instant message. Saya asik berdiskusi tentang sesuatu yang beberapa hari ini membuat otak gatal (hem.., butuh sampo untuk otak ini), yaitu tentang pengalaman mengikuti active didactive learning pada dua hari sebelumnya. Ini lah barang antik yang belakangan ini ditimang-timang di tempat kerja, sebuah barang yang sedang hangat digandrungi.

Berbicara tantang belajar dalam dunia pendidikan, ternyata tak luput berbicara tentang kreativitas dalam menyelenggarakan prosesnya. Di malam sebelum tulisan ini dibuat, saya memancing para rudict (follower twitter saya) untuk membahas tentang kreativitas. Karena pancingannya belum mantap, maka otak yang gatal ini tak bisa dibendung, dan tertuanglah dalam tulisan berbagi pengalaman ini.

Sebelumnya saya ceritakan dulu secuplik pengalaman saya waktu ikut pelatihan. Pada pelatihan active didactive learning bersama trainer bule kemarin, setiap orang membuat rancangan belajarnya masing-masing. Sebagian besar membuat rancangan untuk memberikan pengetahuan teoritik (dan ada juga historis) kepada mahasiswa.

Rancangan yang dibuat oleh peserta training bagus-bagus. Bisa dikatakan kreatif. Tapi ada juga rancangan belajar yang luar biasa, yaitu milik Fathoni. Ia merancang pembelajaran selama satu semester (kalau tidak salah untuk MK Sosial Terapan) dengan membuat projek film.

Dibandingkan dengan rancangan yang lain, rancangan milik Fathoni ini memang lebih liar. Sementara itu, rancangan yang lain dibuat linear, dengan analogi satu banding satu, dan diperuntukkan untuk mentransfer pengetahuan. Karena itulah, masukan yang datang dari peserta training yang lain berkisar tentang pemberian teori, tuntunan dan aturan, serta keharusan untuk masuk kelas secara rutin. Padahal menurut Fathoni, desain rancangannya yang berbasis projek ini hanya membutuhkan konsultasi dan implementasi.

Sekilas tampak perbedaan cara berpikir yang linear dan nonlinar antara Fathoni dan peserta workshop yang lain. Kedua cara berpikir ini bisa dianggap kreatif, atau paling tidak mereka memandang cara berpikir mereka masing-masing adalah kreatif. Tapi kalau sama-sama kreatif, kenapa keduanya berbeda?

Itulah uniknya kreativitas. Banyak orang menyangka kreativitas itu dalam prakteknya hanya melihat dari sisi kutub sebelah: tidak kreatif. Jadi orang menganggap kreatif hanya lawan dari tidak kreatif. Jika orang terbiasa menggunakan otak kiri, maka menggunakan otak kanan dianggap kreatif. Jika orang terbiasa terikat, maka kebebasan dianggap kreatif. Padahal tidak demikian. Kereativitas itu seperti kantong raksasa ajaib yang bisa memasukkan segalanya. Dalam kantong tersebut ada linear-nonlinear (bahkan diantaranya atau pilihan lainnya), ada abstrak dan konkrit (bahkan diantaranya atau pilihan yang lainnya), ada titik, bidang, ruang dan sebagainya.

Berdasarkan hasil pengamatan saya terhadap training active didactive learning, kreativitas satu kutub masih hidup subur di dalamnya dengan kutub kiri yang masih merajai. Kenapa saya katakan demikian? Karena dari komposisi peserta saja, Fathoni jadi orang tunggal yang berbeda dengan kerativias lain yang lebih dianggap tertata teratur. Dari sini juga terlihat ada kutub-kutub cara berpikir yang berbeda: teoritis-praktis, kutub otak kiri dan kanan (kepala dan hati). Dari kutub otak kiri dan kanan, muncul kutub-kutub lain: kutub konkrit-abstrak, linear-nonlinear, teratur-acak.

Berdasarkan teoritis dan praktis, ada peserta yang selalu menekankan pada teori, teori dan teori serta melupakan praktek. Padahal kreativias itu selalu menginjak bumi. Kreativitas mengajak untuk menyatukan yang teori dan kenyataan di lapangan.

Di pelatihan itu, di sana sini terdengar kekhawatiran bahwa mahasiswa tidak terkendali, tidak membaca buku, tidak tahu teori. Jika ada satu ide saja yang liar, maka kekhawatiran yang seperti itu selalu muncul. Padahal perlu kita cermati lagi ide liarnya seperti apa. Jika ide liar itu memang ditujukan untuk berkreasi, mahasiswa mampu mencipta, maka kebebasan itu tidak perlu dikhawatirkan. Bukankah orang akan jadi lebih kreatif jika dibebaskan? (cek video keren ini). Semakin banyak aturan, maka ruang kreatif jadi semakin sempit.

Dalam kreativitas, kekhawatiran mahasiswa jadi tak mau belajar dan tidak terkontrol tidak perlu terjadi. Mosaic Learning melihat fenomena seperti ini dengan sudut pandang kreatifnya, karena kreatif itu bukan soal kebebasan mutlak. Kreativitas membuat aturannya sendiri dalam diri subjek, dalam hal ini mahasiswa yang diberikan projek (seperti idenya Fathoni). Semakin kita membebaskan, semakin bisa mahasiswa membuat aturan. Kemandirian dan penghargaan ini yang menjadi kunci tetap hidupnya kreativitas mahasiswa. Apakah sudah masuk logika kita? Jika mata kreatif kita belum terbuka, rasanya pikiran kita akan masih berpikir keras untuk bisa menerimanya.

Namun demikian, hal ini masih bisa diperjelas. Dalam melakukan sebuah aktivitas pembelajaran, sebenarnya ada tiga komponen utama yang bisa diolah, yaitu modalitas (terutama kekuatan mahasiswa), hasil yang ingin dicapai, serta proses yang dijalankan.

Dalam training active didactive learning, kebanyakan orang menyarankan untuk mengolah proses. Ini harus lebih hati-hati, karena bisa jadi, pengelolaan proses yang berlebihan akan mengurangi ruang kreatif mahasiswa. Jika pengelolaan prosesnya lebih kepada cara fasilitator dalam memandu keseluruhan proses pembelajaran, itu tidak terlalu bermasalah. Tapi jika fasilitator banyak mengintervensi proses yang dirancang oleh mahasiswa, maka itu yang akan jadi masalah buat kreativitas mereka.

Sebenarnya, yang bisa tetap kita kelola adalah hasil atau modalitasnya. Sepakati atau buat saja kriteria yang tidak membatasi untuk hasil projek atau tugas mahasiswa. Seperti apa kriteria yang tidak membatasi itu?

Coba sejenak kita beranalogi. Jika halaman kita kotor dan kita ingin meminta anak untuk membersihkannya, maka kita bisa memberinya perintah. Ada perintah yang berbunyi, “Ambil sampahnya dan masukkan ke tempat samah!”, tetapi ada juga yang seperti ini, “Buat halaman ini menjadi bersih dan indah!”. Bisakah kita membandingkan bagaimana efeknya? Perintah yang pertama sudah (bahkan terlalu) jelas dan menuntun. Efeknya adalah anak akan memungut sampah dan memasukkan ke tong sampah. Apakah dia akan membersihkan noda atau mencabut tanaman yang sudah mati, atau menyiraminya? Saya yakin, tidak. Bagaimana dengan stimulus yang kedua? Anda bisa merasakannya sendiri.

Selain mengelola hasil, modalitas juga bisa diolah. Membiarkan mahasiswa belajar dengan gayanya merupakan pengelolaan modalitas tersendiri. Biarkan yang visual belajar dengan gayanya, juga yang auditorik, intelektual maupun somatik. Selain itu, modalitas di luar diri mahasiswa juga berhak mereka kelola. Modal materi, apa yang mereka punya, atau relasi yang mereka miliki, juga bisa menjadi modal terendiri. Membantu mahasiswa meng-inquiry modalitas ini juga bisa membantu. Atau jika mahasiswa sudah menyadari modalitasnya, kita bisa mengatakan, “Gunakan apa yang kita miliki, modal yang kita punyai!”, sehingga pembuatan film oleh mahasiswa Fathoni tidak terlalu dipusingkan dengan modal materi yang harus digunakan.

Demikian sekelebat ulasan tentang kreativitas. Jadi, selain kita terus membiasakan menjadi kreatif, juga jangan berhenti untuk menyebarkan virus yang dapat membuat orang lain terbiasa menjadi kreatif.

Rabu, 22 Juni 2011

Membuat Cerita Itu Sulit? Ayo Kita Sederhanakan!

Sekarang kita akan lanjutkan pembahasan tentang bercerita dan membuat cerita. Untuk pembahasan level kedua ini, mari kita belajar membuat cerita.

Membuat cerita sama dengan pekerjaan people helper yang lain, yaitu membantu mewujudkan atau mengubah kondisi dari seseorang. Pengubahan kondisi ini bisa diarahkan atau hanya berupa tuntunan dengan stimulasi yang inspiratif. Nah, cerita lebih bersifat menginspirati, tidak menggurui maupun memaksa untuk berubah. Itupun, sifat cerita juga berbeda-beda, ada cerita yang kea rah mengarahkan atau bertujuan menginspirasi.

Terjebak dalam tujuan inilah yang menjadikan sulit dalam membuat cerita. Fokus kepada tujuan, sudah pasti harus. Akan tetapi, banyak orang yang kurang bersabar dalam pencapaian tujuan itu, sehingga ceritanya jadi instant. Seperti berbagai makanan instant yang mudah cara mengolahnya dan cepat juga memenuhi hasrat untuk kenyang. Tapi rata-rata makanan instant itu kurang baik kandungannya dan bisa jadi cepat membuat lapar kembali. Namun demikian, tujuan tetap harus dipegang dan jangan sampai lepas dalam keseluruhan cerita, setiap detil cerita.

Teringat waktu membuat cerita tentang “Aku Sayang Ibu”. Cerita ini berkisah tentang seekor lebah yang bernama Libi yang membenci ibunya gara-gara tidak berhasil mencapai garis finis saat berlomba lari dengan teman-temannya. Libi yang diakui punya kecepatan terbang yang tinggi jadi malu karena gagal, dan kesalahan ini ditimpakan kepada ibunya yang dianggap mengahalanginya saat menyuruhnya makan.

Pemulihan rasa sayang Libi kepada ibunya ini tidak harus dengan menyuruhnya untuk sayang atau menasehatinya secara frontal, baik yang dilakukan oleh ibu maupun tokoh yang lain. Cara halus untuk mengubahnya bisa dengan menggunakan titik balik peristiwa. Dalam cerita “Aku Sayang Ibu”, titik baliknya adalah dilepasnya gips penyangga tulang Libi yang pada waktu kecil pernah patah. Ibunya hanya menginginkan Libi cepat pulih, sehingga dia rajin mengawasi, memintanya makan dan menemani berlatih lari. Nah, seperti itulah tujuan difokuskan dan tetap dipegang dalam keseluruhan cerita.

Lalu bagaimana mencapai tujuan itu? Tentu ada keterampilan yang harus dibangun dari tokoh utama dalam cerita. seperti pada pemunculan insight dalam cerita “Aku Sayang Ibu”, membangun keterampilan juga dilakukan dalam bentuk titik-titik peristiwa. Di cerita dengan tokoh lebah ini, pembentukan keterampilan yang dimaksud adalah proses pemulihan rasa sayang Libi kepada ibunya.

Peristiwa Libi mendorong ibunya saat tidak suka ditemani ketika latihan berlari, sehingga makanannya jatuh berantakan adalah contoh peristiwa yang mengasah keterampilan. Saat Libi mengetahui bahwa ibunya begitu perhatian akan kondisi lengannya yang sejak kecil ternyata patah, saat itulah berbagai kisah yang pernah dilalui mampu mengembalikan rasa sayang Libi kepada ibunya. Kejadian ketika Libi mendorong ibunya yang semula hanya peristiwa biasa, kemudian menjadi peristiwa yang mampu mendatangkan pelajaran bagi Libi.

Bagaimana keterampilan itu bisa diolah? Membutuhkan stimulus yang berupa persoalan yang melecutkan dibutuhkannya keterampilan itu untuk diasah. Dari cerita “Aku Sayang Ibu”, peristiwa pelecutnya adalah kegagalan Libi memenangkan adu lari saat bermain bersama teman-temannya. Pada waktu itu ibunya yang selalu mengontrol kondisi kesehatan Libi menawarinya makan siang, karena sejak pagi belum makan. Peristiwa ini membuat Libi tidak suka dengan ibunya, terutama jika ditemani ketika berlatih lari untuk persiapan olimpiade. Libi menanggap kehadiran ibunya tidak berarti, bahkan menjadi masalah yang menghambat keberhasilannya.

Keselruhan sharing cerita “Aku Sayang Ibu” itu tadi sebenarnya adalah alur pembuatan cerita yang oleh George W. Burn disusun dengan urutan H K M (Hasil, Keterampilan, Masalah). Jadi dalam membuat cerita berkebalikan dengan bercerita. Dalam menyajikan cerita, urutanya adalah M K H (Masalah, Keterampilan, Hasil).

Jadi untuk mudahnya, dalam membuat cerita, 1) Tentukan tujuan dan tetap fokus kepadanya, 2) Membangun atau mengelola keterampilan, 3) Masalah yang membutuhkan pengelolaan keterampilan untuk pencapaian tujuan. Mudah kan membuat cerita? Selamat membuat cerita Anda!

Info penting: Nantikan cerita AKU SAYANG IBU di web Indonesia Bercerita.

Selasa, 21 Juni 2011

Ayo Mendidik Anak Indonesia dengan Bercerita!

Sebuah tweet dari kak @bukik yang kurang lebih berbunyi, “Bercerita itu mudah. Tapi tidak semua orang bisa merancang modul bercerita” (lebih 140 karakter tidak ya? hehe), mengingatkan pada diskusi di Matchbox Too tentang hambatan bercerita. Berbicara tentang bercerita, terdapat dua bentuk kegiatan pokok, yaitu menyajikan cerita dan menciptakan cerita.

Seperti halnya mendengarkan cerita, bercerita sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Coba ingat lagi, ada tidak waktu dalam sehari saja yang terlewatkan tanpa cerita. Mungkin hari ini kita tidak bertemu orang, tapi bisa jadi kita tetap ketemu cerita lewat media massa. Apalagi bagi yang suka ngerumpi, berbagi informasi diskon dan big sale (ehem #nyindir). Di tempat kerja juga taka sing yang namanya ngerasani (don’t try this at home!) yang juga berupa cerita. Mendengarkan dan bercerita adalah paket yang biasanya langsung terjadi secara simultan dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi ternyata bercerita juga ada juga penghalangnya. Secara informal, bercerita sehari-hari tentu sangat mudah. Tapi kalau sudah diformalkan dalam bentuk cerita yang akan dibagi, maka hambatan itu muncul seperti sebuah sedak yang memuntahkan makanan yang sebelumnya kita nikmati. Ini juga terjadi di Indonesia Bercerita (@IDcerita) ketika ajang penjaringan cerita dilakukan. Minat baru meningkat ketika dibalut dengan kuis yang memberikan hadiah.

Jika kita dibebaskan bercerita, tanpa harus punya kepentingan tertentu yang merusak kesenangan, saya yakin akan banyak tumbuh pencerita dan gairah bercerita. Defens muncul ketika kita berpikir akan banyak orang yang mendengarkan cerita kita. Jangankan didengarkan orang banyak, saat perekam disodorkan (oleh diri sendiri sekalipun), defens itu muncul, dan tercekatlah suara kita.

Kebiasaan merekam cerita ternyata sama sulitnya dengan kebiasaan menuliskan ide. Karena itulah podcasting perlu dibudayakan. Podcasting itu adalah merekam aktivitas kita baik audio maupun visual. Jika apapun sudah terbiasa direkam, maka ceritapun juga akan masuk di dalamnya. Membiasakannya sebenarnya mudah, hidupkan perekam dan lakukan aktivitas seperti biasa. Untuk Anda yang biasa bercerita kepada anak, adik atau keponakan, lakukan saja terus. Aktivitasnya cuma ditambah satu, hidupkan perekam dan letakkan di dekat Anda. Dengarkan kembali. Kalau suka, jangan lupa berbagi.

Jika bercerita dan merekamnya dianggap susah, bagaimana dengan menciptakannya? Tentu saja tantangannya lebih besar. Lebih sulit lagi jika menciptakan cerita berbasiskan menulis. Bukan rahasia, berbicara lebih mudah daripada menuliskannya. Ide lebih mengalir saat dikatakan, tetapi jadi mampet saat dituliskan. Berbicara mencipta cerita, memang tidak harus menulis. Jika kita lebih nyaman menggunakan lisan, maka silahkan merekamnya.

Untuk sementara, kita biasakan bercerita saja dulu. Jika sudah merasakan nyaman, jangan lupa merekamnya. Kalau mau berbagi manfaat dari isi cerita, maka jangan ragu untuk memberikan kebaikan buat yang lain.

Level selanjutnya adalah pembahasan tentang membuat cerita. Membicarakan membuat cerita, berarti akan masuk level tantangan berikutnya. Dan tantangan tertinggi, seperti di tweet kak @bukik, membuat desain pembelajaran untuk mengajari orang bercerita dan membuat cerita adalah tingkat yang tertinggi. Tunggu saja pembahasan berikutnya.