Selasa, 29 Juni 2010

NURANI

aku adalah seorang teman yang ingin menjadi detektif. bukan seperti konan yang mengumpulkan fakta lapangan, trus menganalisa, trus menyimpulkan apa yang terjadi, siapa pelakunya dan lain-lain.

aku ingin menjadi detektif yang menyelami pikiran, menelusup ke hati, dan reseptif terhadap semua penglihatan, pendengaran, juga hati.
ini subuah perjalanan yang mengatasnamakan objektivitas. bukan mengumpulkan objek dan mengeluarkan output yang berbau objek. subjektivitas yang bertanggung jawab adalah yang terpenting. ketika Muhammad mengatakan bahwa fatwa kebenaran dan kesalahan berasal dari hati, maka gunakan nurani untuk mencapai subjektivitas yang bertanggung jawab.

banyak orang yang merasa dirinya objektif, ilmiah, empiris, tetapi tak pernah menyelami empirisme dalam pemikiran dan perasaannya sendiri. setiap orang punya objektivitas pada dirinya sendiri. ketika para ilmuan banyak mencela sesuatu yang tidak berasal dari sensori, maka objektivitas ekstrasensori mengatakan bahwa inilah kebenaran yang sesungguhnya, hati nurani.

MASA LALU, MASA KINI, DAN MASA DEPAN SEBAGAI KEHADIRAN

Sekarang anda berada dimana? pada waktu kapan? sedang apa? Itu adalah awal dari kehidupan Anda. Bukankah kehidupan kita dimulai sejak lahir, atau bahkan sejak jaman ajali? Tidak, kehidupan kita diawali dari ketika kita memutuskan untuk berpikir, merasa dan melakukan sesuatu. Jika kita bicara tentang pijakan awal, maka ada banyak aspek dari hidup yang bisa menjadi pijakan untuk melangkah. Sebenarnya pijakan yang kita persepsikan sebagai awalan merupakan pertengahan atau akhir dari sebuah awalan. Dengan kata lain, pijakan tempat kita mengawali, tempat kita sedang menjalani dan bisa jadi akhir dari sebuah babak kehidupan adalah pijakan awal buat kita. Persepsi sebagai indikasi kesadaran akan menempatkan nama pada tempat sekarang kita berpijak. Nama itu bisa masa lalu, masa sekarang, atau masa depan. Berpijak pada masa lalu adalah berpijak pada masa sekarang dari sebuah perbuatan, berpijak pada masa depan juga demikian. Anda pusing dengan tulisan ini? Jangankan Anda, saya saja juga pusing.

Pada suatu ketika kita kadang membayangkan masa lalu yang menyedihkan dan tidak kita sadari kita melelehkan air mata. Kadang kita juga tiba-tiba tertawa ketika kita ingat ulang tahun kita yang dirayakan dengan menceburkan kita ke kolam ikan yang keruh dan penuh dengan lele dumbo. Sebenarnya masa lalu punya kekuatan pendorong untuk terjadinya sesuatu di masa berikutnya. Jika kenangan itu hadir pada masa sekarang, maka masa lalu punya kekuatan untuk terjadinya tangisan atau tawa. Bagaimana masa lalu punya kekuatan mendorong? Itu karena kitalah yang menarik masa itu untuk hadir di masa kini.

Coba kita putar ke masa depan. Kadang kita tersenyum saat membayangkan kita menjadi kakek atau nenek dengan cucu yang bermain di halaman. Tiba-tiba kita memperingatkan mereka, "Eh, jangan main terlalu jauh!", "Awas, entar jatoh lo!". Terus kita tersenyum. Kekuatan apa yang membuat kita tersenum dan menangis di masa depan? Kekuatan imajinasilah yang melakukan. Kata orang masa depan punya kekuatan yang menarik kita. Seperti kata orang fungsionalis, bahwa perbuatan kita dituntun kepada suatu fungsi dari perbuatan. Jika ditujukan pada sesuatu, maka sesuatu itu punya nilai yang disebut fungsi buat yang berbuat. Sebenarnya bukan tarikan kekuatan yang kita dapat dari masa depan, tapi kehadiran masa itu pada masa kini.

Melihat kedua fakta tersebut, maka penghayatan dari masa lalu dan kejelasan imajinasi di masa depan sama-sama punya kekuatan. Bagaimana kekuatan itu bisa aktual? Maka kehadiran di masa kinilah jawabannya.

Memang kehadiran masa lalu yang katanya sebagai pendorong dan kehadiran masa depan yang katanya berfungsi untuk menarik, tidaklah sesimple seperti garis yang menghubungkan kedua kutub dengan melalui masa kini. Namun demikian, pemikiran soal garis sebagai tempat berpijak sebenarnya sama seperti sirkus yang meniti tali yang direntangkan di ketinggian. Hidup tidak sesimpel garis seperti pada tali yang linear, tapi juga tidak sesulit seperti meniti tali di ketinggian. Jika kita mau berpikir agak luas, maka bisa jadi papan yang kita lewati. JIka mau lebih mudah, maka kita bisa melewati lapangan yang terbentang. Soal ketinggian, bisa menjadi lebih mudah ketika ternyata lapangan itu bukan hanya bisa dilewati secara mendatar, tapi juga bisa kita lalui secara vertikal. Maka akhirnya kehidupan itu bertambah luas, bertambah besar volumenya dan yang jelas semakin memudahkan kita melangkah. Lalu apa yang akan kita pilih, berjalan di tali yang kecil atau berjalan dalam ruang yang membebaskan kita untuk ke atas, bawah, kanan, kiri, depan, atau belakang. Jika ada pilihan yang memudahkan maka kenapa harus pilih yang susah?!

CINTA


Cinta. Aku menjadi tertatih tak tentu arah ketika setiap bayangan tulisan cinta selalu diawali dengan kata itu, juga tajuk cinta. Bukan dengungan logis rasional ketika dada berburu. Bukan pembahasan kebahasaan ketika ungkapan cinta bertalu. Bukan reaksi dari rangsangan mata, telinga, hidung, kulit, lidah yang membuat cinta itu buta, cinta itu tuli, cinta itu bisu, cinta itu.... Ketika semua telah tersebutkan, tidak dipungkiri bahwa cinta itu mati. Padahal cinta itu hidup, cinta itu melihat, cinta itu mendengar, cinta itu bicara. Setiap kehendak yang digerakkan oleh cinta punya bantahan, punya pembenaran, punya pembelaan. Butanya cinta saat wajah jadi ukuran, tulinya cinta saat suara jadi sandaran, bisunya cinta saat rayuan jadi pijakan, dan matinya cinta saat ia tak lagi jadi karunia.

Anekdot cinta saat melownisasi menjangkiti kaum tertolak, kaum tersia-sia, kaum terjajah. Meledaknya jantung tak pernah dapat hirauan. Sesaknya nafas tak lagi beroleh anggapan. Saat Iwan Fals berkata, "Aku bukan pilihan", atribut bisa melekat pada harta. Ketika Ibnu Hajar menyatakan bahwa, "Tidak Ada Cinta Bagi Penyair", rona telah terbiaskan oleh ayu atau gantengnya paras, tipisnya bibir, lentiknya bulu mata, mancungnya hidung, atau badan gembur, subur, dekat sumur, awas kecebur, mati nganggur. Tapi ternyata cinta membangkitkan semua. "Aku adalah pilihan", "Penyair berhak untuk mencinta dan dicinta". Setiap kata terucap adalah harapan. Setiap senyum, desah, lirikan, jadi buaian.

Cinta tak jauh dari benda sakral. Bahkan cinta dianggap sebagai agama. Setidaknya apa yang dikatakan Kang Jalal telah menempatkan cinta pada dikotomi yang sama dengan agama. Cinta memotivasi kekerasan tanpa balas atau pengabdian tanpa batas. Cinta mengilhami pencarian ilmu tertinggi atau menyuburkan takhayul dan superstisi. Cinta menciptakan gerakan massa paling kolosal atau menyingkap misteri ruhani paling personal. Cinta memekikkan perang paling keji atau menebarkan kedamaian paling hakiki.

Pembenaran akan cinta dan pembenaran karena mencinta menjadikan cinta itu hidup. Namun kematian cinta adalah kehidupan bagi pecinta. Setiap bayangan dari yang dicinta hadir, geliat argumen tak kan memurnikan cinta. Hanya helahan nafas yang menghentikannya pada ketulusan cinta. Hembusan panjang sebagai bentuk kepasrahan. Kepasrahan yang sering berujung pada kehidupan dari sang penyair, kehidupan bagi yang tak berhak untuk dipilih.

Akhirnya atas nama cinta, aku hidup dengan kehidupanku, aku melihat dengan mataku, aku mendengar dengan telingaku, aku bicara dengan lidahku.

BELAJAR DARI KUE APEM

pada suatu ketika, aku sedang berkunjung ke rumah seorang teman. Di situ disuguhi kue apem. Aku lihat kue itu berbentuk bulat. Saya tanya kepada teman bagaimana rasa kue apem tersebut. Kebetulan temanku memang sudah memakan satu kue itu. Sebelum temanku menjawab, aku sudah menggigit bagian kecil dari apem itu. Manis, hal yang pertama terlintas di pikiranku. Pemikiran pertama adalah tentang rasa. Aku teruskan memakan kue itu. Empuk hal kedua yang terlintas di pikiranku. Pemikiran kedua adalah tentang tingkat keras atau lunaknya kue. Selanjutnya kue apem sudah mendapatkan konsep manis dan empuk.

Sebuah proses belajar telah terjadi ketika apem mendapatkan atribut manis, atribut empuk dan atribut manis dan empuk. Belajar tidak hanya sekedar memindahkan teks ke dalam simbol yang terperi, mengubah bentuk apem menjadi apem. Seperti juga orang yang membaca tulisan dan memindahkan tangkapan visual menjadi simbol-simbol dalam otak. "Apem adalah sebuah kue" akan lebih bermakna daripada "apem – adalah – sebuah – kue". Hal ini sama saja ketika apa yang didapat tentang apem, yaitu rasa manis dan empuk. Ketika suatu saat kita mendengar kata apem, atau melihat kue apem, dalam pikiran kita bukan "apem" atau juga bukan bentuk kue apem. Pikiran kita sudah mampu mengidentifikasi bahwa apem adalah kue berbentuk bulat, berasa manis dan empuk. Meskipun sebenarnya bisa jadi apem berbentuk kotak, berasa pahit dan terasa keras.

Akhir dari dialog itu aku mengatakan, "Jika kita berbicara masalah rasa, yang ada hanya neg, bosan, atau muntah, tapi jika kita berbicara pengetahuan tentang rasa, maka tidak akan ada habisnya" [*]

SWEET DONUT

Pada suatu sore yang indah. Dimana hari saya menuntut ilmu melalui bangku kuliah. Pada waktu itu teman-teman sedang diskusi tentang analisis pada penelitian etnografi. Kita tidak sedang membicarakan analisis domain, analisis taksonomi, analisis eksponensial dan analisis tema kultural. Tidak, kita tidak sedang melakukan itu semua, tapi kita sedang membuat donat.

Hari itu sedang duduk berlima orang-orang yang akan bertualang untuk menghasilkan donat etnografi, sebuah donat yang diramu khusus untuk bagian analisis. Kita berlima mengunjungi sebuah toko bahan pembuat roti. Dalam toko banyak sekali terdapat bahan-bahan kue, seperti kismis, tepung, telur, baking powder, gula, garam, minyak dan lain-lain. Pada waktu itu kita sedang mengumpulkan data kualitatif yang berupa bahan-bahan pembuat kue. Sesuai dengan bahan yang diidentifikasi dalam toko, maka kita memutuskan untuk membuat donat sebagai domain utama. Bagian mana dari donat yang akan kita perhatikan dalam pembuatan kue nanti? Tentu saja kita memperhatikan pembuatan, bentuk kue donat, rasa. Ketiga hal ini menjadi domain-domain yang nantinya kita teliti. Domain-domain ini kemudian kita pelototi (observasi) dan kita berusaha untuk tanya-tanya kepada ahli donat (wawancara terfokus). Dari penelusuran ini, pada masing-masing domain diperoleh bagian-bagian dari domain (analisis taksonomi). Rasa menghasilkan pilihan mint, coklat atau selai; Bentuk menghasilkan bulat lonjong, bulat, atau kotak; Pembuatan menghasilkan pembuatan menggunakan tangan atau menggunakan mesin. Bagian-bagian kecil ini kita kontraskan pada masing-masing domain (analisis eksponensial).

Pada domain rasa kita kontraskan antara mint, coklat, atau selai.Begitu juga dengan domain bentuk dan cara pembuatan. Jika semua keterangan tentang rasa, bentuk dan pembuatan telah lengkap (data jenuh), maka domain-domain dihubungkan satu sama lain (analisi tema kultural). Jadi antara rasa, bentuk, pembuatan yang sudah mempunyai keterangan lengkap (deskripsi lengkap), dan kemudian dihubungkan sehingga tetap membangun donut yang uenak, empuk, gurih, renyah, ciamik pokoknya deach. Pada akhirnya donat-donat dengan berbagai rasa dan bentuk dikemas dalam kardus yang diberikan nama donat apresiatif dengan merek analisis etnografi. Hasil ini berbeda dengan domain asumsi awal tentang donat, karena asumsi akan membuat donat hanya diperoleh dari data awal yang sifatnya hanya permukaan. Donat yang ada pada angan-angan di awal tadi adalah donat imajinatif. Sedangkan donat yang di akhir adalah donat yang terwujud. Pada donat yang terakhirlah hasil penelitian sudah bisa disajikan dengan utuh lengkap dengan kemasannya yang cantik.

Sekarang kita punya donat dan tahu cara pembuatan donat, termasuk memilih bahan dan meramunya. Alangkah nikmatnya bisa membuat donat sekaligus menambah pengetahuan dalam penelitian kualitatif. Anda mau mencoba cara saya??? Mudah sekali, lihat kekuatan yang ada pada diri Anda (mungkin termasuk orang-orang yang berhubungan dengan Anda), lemparkan angan-angan dalam dunia imajinasi yang diimpikan, buat desain dan langkah kongkrit dan nyata untuk mewujudkan impian tersebut, dan nikmatilah hasilnya dengan teman-teman atau keluarga
Anda. Selamat membuat donat (atau kue-kue yang lain)

"angka" dan "tuhan"

analisis post-struktural

Angka. Ringan sekali menyebutnya, namun lebih besar pengaruhnya dalam menjaring kepercayaan. Mengucap kata "angka" memang lebih ringan daripada kata "tuhan". Mungkin bisa dikarenakan kata "angka" diawali dan diakhiri dengan vokal yang sama, sehingga dengan hanya dua kosa kata saja, bunyi a lebih mendominasi dari pengucapan ang maupun ka. Fungsi huruf mati ng (sebagai peleburan dari n dan g yang menjadi eng) hanya diucapkan pada posisi mati. ng memang sedikit kuat pada kosa kata ang, tetapi dilemahkan karena a pada ang dibacking oleh kekuatan a akhir pada ka. Untuk kosa kata ka sendiri, konsonan yang semivokal dan disepakati sebagai ka, sebenarnya tidak membutuhkan a. Namun karena diikat oleh kosa kata ang dalam kata "angka", yang selanjutnya diperkuat (lagi-lagi oleh konvensi) dengan makna yang ditunjuk (ciri bahasa manusia yang ke-7: kebermaknaan), maka tidak mungkin hanya ditulis angk kalau tidak ingin menjadi angek

Pada sisi lain, kata "tuhan" lebih merepotkan karena diawali konsonan t dan diakhiri konsonan n yang keduanya membutuhkan tenaga tambahan lagi ketika pengucapannya tidak menurut fonim semivokalnya. Misalnya saja "tuhan" menjadi tahan, tuhen, atau bahkan tahen. Kelelahan pengucapan ini ternyata masih bisa diperingan karena konsonan ha sudah memenuhi semivokalnya. Memang ketika dirangkai dengan huruf lain, semivokal dengan bunyi vokal di belakang lebih ringan dan mudah daripada di depan. Hal ini bisa dikarenakan kesepakatan untuk bunyi vokal mengikuti konsonan (semivokal) lebih banyak daripada yang bunyi vokalnya mendahului (berbanding 12:6, vokal 5, huruf yang lebih kompleks 3, yaitu q, x, z).

Kenapa harus "angka" dan "tuhan"? Sebelum menjawabnya, mari kita tinjau arti kata "angka" dan juga kata "tuhan". Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, "angka" diartikan tanda atau tulisan sebagai pengganti bilangan (Poerwadarminta, 1984). Sedangkan kata "tuhan" dalam kamus yang sama diartikan Allah, Tuhan Allah, Allah; Tuhan Yang Esa, Allah yang hanya satu. Lalu apa hubungan antara keduanya?

Dilihat dari artinya, kedua kata terebut memang tidak ada hubungannya blabar pisan. Tapi apa yang tidak bisa dihubung-hubungkan pada jaman sekarang. Hubungan ini bukan cuma hubungan yang stagnan, hanya mentok sampai pada tingkat "ketemu", seperti detektif yang mencari penitinya sendiri karena lupa tempat menaruhnya. Bukan juga hubungan seperti pada kebanyakan skripsi yang hanya mengait-ngaitkan (kalau tidak membandingkan) antara pikiran, perasaan, dan perbuatan. Seperti juga kawan Dauz yang menghubung-hubungkan antara cinta dan sendal jepit sebagai usaha menjawab bahwa semua bisa dihubungkan kalau kita mau. Namun di sini tidak akan sekedar membolak-balik antara "kata tuhan" dan "Tuhan (ber)kata". Di sini akan coba membahas unsur kebermaknaan yang pragmatis-fungsional dari bahasa yang akhirnya juga mengarah kepada ciri ke-6 (spesialisasi) dari bahasa manusia. Spesialisasi adalah efek bahasa yang dengan daya kecil menghasilkan dampak yang besar, baik fisik maupun psikis.

Dari sinilah hubungan antara "angka" dan "tuhan" dapat dirunut. Sementara kata "tuhan" kita biarkan dulu sendirian, mari kita bahas tentang "angka". Seperti pada paragraf awal tuisan ini, angka mempunyai efek dalam menjerat pengikut untuk mempercayainya. Banyak hal hanya bisa dianggap meyakinkan kalau sudah dikuantifikasikan dalam angka-angka. Penelitian misalnya, kuantitatif dianggap lebih meyakinkan daripada kualitatif, meskipun tidak lebih sangar (katanya sih). Buku-buku juga lebih laris manis dengan judul yang memanfaatkan kekuatan angka-angka: 10 Kiat Meraih Sukses, Meningkatkan Kemampuan Otak Dua Kali Lipat Hanya dalam Waktu 24 Jam, 6 Jurus Meruntuhkan Hati Lawan Jenis dan lain-lain. Contoh yang paling dekat dengan kita adalah dalam bidang akademis. Ternyata angka (baca nilai) masih memegang pengaruh melebihi kualitas hasil belajar yang berupa kepintaran.

Dari uraian yang boros kata-kata di atas, dalam menghubungkan "angka" dengan "tuhan" mungkin cukup dengan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya hanya perlu dirasakan untuk akhirnya bisa menghubungkan atau membandingkan "angka" dengan "tuhan". Apakah yang Anda rasakan ketika nilai Anda A, AB, B, BC, C, CD, D, DE, atau E (memang ada nilai seperti itu? J) yang sumbernya juga dari kategori angka-angka? Di sisi lain, bagaimana perasaan Anda ketika hari kemarin Anda nyontek atau tidak nyontek (nyontek dapat A= yess, berhasil nyontek; tidak nyontek dapat E=sial, kenapa dulu nggak nyontek saja). Tapi yang lebih ditekankan adalah pada perbandingan perasaannya (senang atau sedih) ketika berhubugan dengan angka dan ketika berhubungan dengan Tuhan. Bagaimanapun dalam menghubungkan tergantung pada tingkat bagaimana Anda merasakan.

Keperkasaan angka-angka yang menjurus pada dominasi tidak sepenuhnya salah konsumen (baca siswa atau mahasiswa), tapi juga diperkuat oleh kokohnya sistem yang menanamkan mental "angka tuhan". Dengan otoritasnya, sistem membangun anggapan bahwa A lebih pintar daripada E, tanpa melihat isi di balik A atau E tersebut. Penulis tidak bermaksud mengatakan angka telah dipertuhan. So, think it by your self!

KETIKA ORANG YANG TERLALU PINTAR TIBA-TIBA MENJADI BODOH

Ini bukan hukum karma seperti yang sering kita dengar dari cerita-cerita rakyat. Bukan seperti orang kaya yang sombong kemudian jatuh miskin. Bukan juga sebuah fenomena perpindahan dari daerah bodoh ke daerah pinter, atau sebaliknya. Maksudnya orang yang kelihatan pinter di daerah bodoh menjadi orang yang tampak bodoh di daerah pinter, atau orang yang ketularan pinter menjadi orang yang ketularan bodoh pada hukum berbanding lurus. Bukan, bukan itu semua. Semua kata bukan ini menunjukkan kepintaran. Sebuah proses pemecahan kategori dan penggabungan ke dalam bentuk kesimpulan. Kepintaran ini yang biasa disebut dengan ketajaman analisis. Semakin tajam pisau analisis yang digunakan, semakin dikatakan pinter seseorang. Masalah sintesis adalah masalah tanggung jawab. Manusia cerdas akan mengetahui tanggung jawabnya ketika melakukan analisis.

Ketika orang sudah memiliki pisau yang terlalu tajam, maka semuanya bisa dibabat. Seperti orang mengatakan sesuatu yang bisa dimakan. Sesuatu yang bisa dimakan belum tentu itu makanan. Ban, sendal, kaus kaki juga merupakan sesuatu yang bisa dimakan, tapi mereka bukan makanan. Sama seperti "bisa dibabat". Semuanya bisa dibabat, bahkan kata "bisa dibabat" ini mengacu kepada dua arah, segala pisau bisa digunakan untuk membabat, atau segala benda bisa dibabat dengan satu pisau.

Jika di sekeliling kita kebanyakan adalah orang bodoh, maka pisau kita bisa jadi tidak diandalkan meskipun ketajamannya tidak diragukan. Orang biasanya lebih suka menggunakan pisau lama yang tidak beresiko. Orang yang terlalu pintar di lingkungan yang terbiasa menggunakan orang bodoh, tidak akan terpakai, bahkan orang tersebut bisa merasa menjadi orang yang paling bodoh di dunia. Ketika aksi kepintarannya mulai muncul, kecurigaan dan kekhawatiran yang justru keluar. Takut orang ini akan membahayakan posisi orang-orang tumpul.

Perlu diketahui, ada perbedaan antara orang pintar dengan orang yang terlalu pintar. Orang pintar tidak selalu pintar, sedangkan orang yang terlalu pintar sudah pasti pintar. Orang pintar biasanya lebih mudah untuk menjadi robot dari orang bodoh, sedangkan orang yang terlalu pintar akan bergerak mengikuti kata hatinya, mendayagunakan otaknya secara mandiri, bukan orang latah, apalagi 'orang orderan'.

Perlu dibedakan lagi orang yang mengaku pintar dengan orang yang benar-benar pintar. Orang yang mengaku pintar bisa dipastikan dia orang bodoh. Sedangkan orang yang benar-benar pintar, bisa dipastikan memang pintar. Orang yang pintar tetapi mengekor pada orang bodoh, orang tersebut bisa dikatakan tidak bodoh, tetapi tolol alias blo'on bin guoblok.

Mencari orang yang terlalu pintar ini sulit. Jika ada, pasti berusaha disingkirkan oleh orang-orang bodoh. Orang bodoh lebih memilih orang pintar yang tolol daripada orang yang benar-benat pintar. Masih bingung? Ok, agar kesucian orang-orang yang pintar sungguhan tidak ternodai oleh tangan kotor orang bodoh, maka kita masukkan saja orang yang benar-benar pintar itu ke dalam kategori genius. Berarti harus menjelaskan lagi apa itu orang genius.

Orang genius sebenarnya juga orang pintar, tetapi memiliki dua hal yang menjadi keunggulannya dibanding orang pintar yang tolol. Pertama, orang genius selalu bekerja total, ada atau tidak ada perintah dari orang lain. Orang genius merasa bahwa apa yang harus dilakukan bukan karena orang lain, tapi lebih merupakan tanggung jawab terhadap pilihan. Kedua, orang genius mampu melihat pola dalam ketidakteraturan. Satu kata yang bisa menggantikan ciri kedua ini adalah kreatif. Kedua ciri ini saling berhubungan membentuk diri manusia genius secara utuh.

Fenomena yang terjadi sekarang ini, banyak orang yang merasa genius, mengaku genius, dan kelihatan genius. Orang-orang seperti ini biasanya adalah orang yang menghendaki kemapanan posisi pribadinya. Jika buku mengatakan bahwa meja adalah benda dari kayu yang berkaki empat, maka ia akan menolak jika kemudia ada meja dari besi. Pemikiran dari orang tolol ini jika menjadi kebiasaan akan terefleksi dalam sikap dan perbuatannya. Ini berkaitan lagi dengan pembabatan orang genius dengan pisau tumpul. Banyak orang genius yang kemudian bermunculan, justru merasa dirinya bodoh. Tekanan dan intimidasi dari orang yang mengaku genius benar-benar membuat dirinya tidak berharga. Begitu ia muncul, pras, prok, dess, dihabisi oleh orang-orang tolol yang bergaya genius.

Tulisan ini hanya sebuah bahan refleksi. Apakah Anda termasuk orang yang genius, mengaku genius atau hanya bergaya genius? Hanya diri Anda sendiri yang tahu. Bahan refleksi sebenarnya berasal dari fenomena. Fenomena yang terjadi adalah sebuah fakta. Beranjak dari sini, maka berhati-hatilah dengan orang genius yang tolol atau dengan orang goblok. Mudah-mudahan Anda tidak termasuk di dalamnya. Naudzubillah summa naudzubillah [ ", ]